Langsung ke konten utama

JEMAAH MASJID USANG RAUDHATUL JANNAH LAKUKAN SHOLAT GERHANA BULAN

Sentajo Raya - Jemaah Masjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi Riau Rabu malam (25/5/2021) melaksanakan Shalat Gerhana berjemaah. 

Usai shalat gerhana berjemaah dilanjutkan khutbah singkat yang disampaikan Ustadz Sapri Marlian S. Sy. Dalam khutbahnya menyampaikan, Sebagaimana tuntunan agama Islam, umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa dan sedekah saat gerhana bulan berlangsung.

Foto : Jemaah Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo melaksanakan Shalat Gerhana berjemaah Rabu malam (25/5/2021). 


Selain itu terdapat anjuran sholat gerhana bulan secara berjamaah di masjid, atau shalat gerhana bulan sendiri.

Seluruh amalan tersebut, sebagaimana diperintahkan Nabi Muhammad SAW.

amalan yang bisa dilakukan seorang muslim saat terjadi gerhana selengkapnya:

1. Perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah sholat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Foto : Jemaah Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo melaksanakan Shalat Gerhana berjemaah Rabu malam (25/5/2021). 


2. Keluar mengerjakan sholat gerhana secara berjama’ah di masjid.

Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan sholat. (HR. Bukhari no. 1050). 

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendatangi tempat sholatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia sholat di situ. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 343)

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan sholat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu sholat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari, 4: 10)

Apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat sholat gerhana?

Foto : Jemaah Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo melakukan Sholat Gerhana Bulan Rabu malam (25/5/2021). 


Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”sholat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan sholat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا

“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka sholatlah”. (HR. Bukhari no. 1043)

Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), sholatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa sholat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan sholat tersebut sendirian. 

Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan sholat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika sholat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan sholat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.” (Syarhul Mumthi’, 2: 430)


3. Wanita juga boleh sholat gerhana bersama kaum pria

Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,

أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ

“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan sholat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari no. 1053)

Bukhari membawakan hadits ini pada bab:

صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ

“sholat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”

Ibnu Hajar mengatakan,

أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى

“Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh sholat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan sholat sendiri.” (Fathul Bari, 4: 6)

Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan sholat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka sholat sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 345)

4. Menyeru jama’ah dengan panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak ada adzan maupun iqomah.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,

أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH sholatU JAMI’AH’ (mari kita lakukan sholat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901) . Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam sholat gerhana.

5. Berkhutbah setelah sholat gerhana

Disunnahkah setelah sholat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435). Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ:

” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”.

ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “.

Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan sholat tadi), sedangkan matahari telah nampak.

Foto : Jemaah Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo melaksanakan Shalat Gerhana berjemaah Rabu malam (25/5/2021). 



Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah sholat dan bersedekahlah.” papar Sapri Marlian. 

Shalat Gerhana berjemaah ini juga dihadiri Sekretaris Desa H. Bahmada A.Md, Para Perangkat Desa, Ketua Masjid, Ketua PHBI dan Para Jemaah Masjid Raudhatul Jannah. 

Penulis : Madiyusman
Wartawan : liputanoke.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTUSIAS WARGA SAKSIKAN PERGELARAN SILEK PANDEKAR BATUAH

Sentajo Raya - Seperti biasanya, setiap tahun, usai acara silaturahmi karumah godang, warga selalu menyaksikan pergelaran Silek Pandekar Batuah yang sangat dinantikan para warga perantauan. Antusias warga terlihat menyaksikan Pergelaran Silek Pandekar Batuah yang digelar dilaman pondam Pendekar Malin Desa Koto Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi Selasa sore (1/4/2025). Kali ini pergelaran Silek Pandekar Batuah langsung dihadiri Almizon yang merupakan Pendekar Batuah pemegang pucuk Pimpinan tertinggi Perguruan Silek Pandekar Batuah. Selain itu pergelaran Silek Pandekar Batuah turut dihadiri para Pendekar (Para Guru), Anak Tuo, anak Barompek serta para anak baru dibawa naungan Silek Pandekar Batuah Kenegerian Sentajo. Pergelaran ini sangat memukau penonton yang hadir karena para Guru yang hadir menampilkan ketangkasannya masing-masing. Almizon ketika dimintai Keterangan Rabu siang (2/4/2025) Menuturkan, Keberadaan Perguruan Silek Pandekar Ba...

PEMDES KOTO SENTAJO BUKA PUASA BERSAMA DENGAN PARA KADER PKK

Koto Sentajo - Bertempat dikediaman Pj. Kepala Desa Koto Sentajo H. Bahmada A.Md Jumat malam (28 Ramadhan 1446 H), Pemerintahan Desa Koto Sentajo melaksanakan acara Buka bersama (Bukber) bersama para Kader PKK, para RT, RW, Ketua BPD serta para Perangkat Desa. Foto : H. Bahmada menyerahkan bingkisan Ramadhan kepada Ketua BPD Koto Sentajo. Jumat malam (28/3/2025). '' Acara buka bersama ini bertujuan untuk memupuk silaturahmi antara Pemerintahan Desa Koto Sentajo dengan mitra kerja '' papar H. Bahmada. Selain itu. Dengan sudah dekatnya hari raya Idul Fitri 1446 H, maka momen buka bersama ini berkesempatan untuk saling bermaafan, dia dan keluarga menyampaikan mohon maaf lahir dan bathin. Dikatakannya, Kegiatan buka bersama merupakan kegiatan rutinitas setiap tahunnya dibulan Ramadhan.  Dikesempatan itu, Pj. Kepala Desa H. Bahmada menyerahkan bingkisan kecil sebagai bentuk kepedulian akan sesama. Mudah-mudahan amalia puasa kita diterima oleh Allah S...

PENGURUS MASJID USANG RAUDHATUL JANNAH BERIKAN SANTUNAN ANAK YATIM - PIATU

Sentajo Raya - Pengurus Masjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi Selasa malam (25 Ramadhan 1446 H) menyerahkan santunan kepada 15 anak Yatim dan Piatu Desa Koto Sentajo. Ketua Masjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo Alfizon mengatakan, penyaluran santunan kepada para anak Yatim dan Piatu berasal dari dana yang dihimpun melalui dana infaq dari kaum muslim di Masjid Usang Raudhatul Jannah. Foto : Pj. Kades H. Bahmada A.Md menyerahkan santunan Anak Yatim dan Piatu Desa Koto Sentajo.  '' Alhamdulillah, pada tahun ini dana yang terkumpul melalui kotak infaq Yatim - Piatu sekitar Rp. 18.000. 000 rupiah '' maka masing-masing anak Yatim dan Piatu menerima santunan sebesar Rp.1.200.000 rupiah. Mudah-mudahan dengan adanya santunan tersebut dapat meringankan beban para anak Yatim dan Piatu. Kita berharap dana yang diberikan akan dipergunakan untuk keperluan yang bermanfaat harap Alfizon.  Penyerahan santunan anak ...